Minggu, 05 Mei 2013

tokoh dakwah Asia Tenggara

TOKOH- TOKOH DAKWAH ASIA TENGGARA
Hadirnya Islam merupakan dampak positif dari ramainya transaksi dagang di Selat Malaka. Ada sekitar 240 juta Muslim tinggal di Asia Tenggara. Jumlah tersebut hampir seperempat dari total jumlah umat Islam di dunia yang mencapai 1,6 miliar jiwa.
Indonesia, sebagai bagian dari Asia Tenggara, bahkan merupakan negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia. Sebanyak 12,9 persen dari total Muslim dunia hidup di Indonesia. Meski Islam lahir di tanah Arab, namun jumlah Muslimin didominasi masyarakat Asia, terutama Asia Selatan dan Tengggara. Tak sedikit negara Asia Tenggara menjadi rumah bagi mayoritas Muslim. Bahkan, Malaysia dan Brunei Darussalam menjadikan Islam sebagai agama resmi negara. Dibanding saudara-saudara seiman mereka di Timur Tengah, umat Islam di Asia Tenggara hidup lebih aman dan damai. Konflik agama, aksi kekerasan, ataupun peperangan sangat minim. Meski berasal dari etnik yang heterogen, Muslim Asia Tenggara sebagian besar menganut paham agama yang sama, yakni Sunni dengan mazhab Syafi’i. Menilik sejarahnya, Malaka merupakan gerbang utama masuknya Islam ke Asia Tenggara. Dari semenanjung Malaka, Islam bersentuhan dengan bangsa Melayu yang kemudian menyebar ke seluruh kawasan Asia Tenggara

A. Haji Abdul Malik Bin Abdul Karim Amrullah (BUYA HAMKA)
Haji Abdul Malik Bin Abdul Karim Amrullah. Beliau adalah seorang ulama karismatik, aktivis politik nan santun dan sekaligus penulis ternama yang amat terkenal dan telah mendunia. Buya Hamka merupakan salah seorang putra terbaik yang pernah dimiliki ranah Minang ini, beliau dilahirkan pada tanggal 17 Februari 1908 di Maninjau, Sumatra Barat. Buya Hamka selain gemar membaca juga rajin bertukar pikiran tentang permasalahan yang banyak dialami kaumnya pada masanya, baik bertemakan tentang keislaman maupun kebangsaan. Buya Hamka yang belajar secara otodidak senantiasa tidak pernah puas menggali ilmu di berbagai bidang seperti filsafat, sastra, sosiologi, hingga politik. Proses belajar otodidak ini sangat ditunjang kemampuannya dalam bahasa terutama bahasa Arab.
Sebagai seorang penulis ternama, nama Buya Hamka tidak asing lagi dalam dunia sastra dan jurnalistik. Berjuang tidak selamanya dilakukan dengan mengangkat senjata. Perjuangan fisik harus juga disertai dengan perjuangan mengisi jiwa, menumbuhkan kesadaran, membakar semangat dan menguatkan ruh jihad. Apalah jadinya apabila tidak adalagi orang yang mau mengasah pena. Niscaya tidak akan adalagi tulisan, surat kabar, buku dan juga kitab yang bisa dibaca dari generasi ke generasi. Tidak adalagi sejarah yang bisa dipelajari kelak dikemudian hari setelah pelaku sejarahpun tiada.
Disamping dikenal sebagai seorang jurnalis, Buya Hamka tak diragukan lagi juga piawai dalam mengarang karya sastra seperti prosa, pantun hingga novel. Disela-sela padatnya aktivitas dakwah ternyata Buya Hamka sangat produktif dalam menulis. Sentuhan religius dari karya-karya Buya Hamka ternyata mampu memberi warna baru bagi dunia kesusastraan di Nusantara sehingga tidaklah mengherankan jika nama Buya Hamka dikenal sebagai sastrawan angkatan pujangga baru
Buya Hamka banyak berperan dalam gerakan dakwah. Beliau tidak memaknai dakwah secara sempit. Banyak bidang yang telah beliau lakukan dalam memperjuangkan agama Islam. Metode dakwah yang dibawakan oleh Buya Hamka sangat bijaksana sehingga diterima banyak kalangan.
Atas keluasan ilmu yang dimiliki serta kontribusinya yang besar dalam berdakwah di Indonesia beliau di anugerahi Doktor Honoris  Causa dari Universitas Al Azhar Kairo pada tahun 1958. Surat pengakuan gelar tersebut ditanda-tangani langsung oleh Syeikh Al Azhar ketika itu yaitu Syeikh Mahmud Syaltut. Hal ini mengulang sejarah ayahnya yang diberikan gelar yang sama pada tahun 1926 ketika kongres yang dianjurkan oleh ulama Al Azhar. Ketika itu ayahnya bersama H. Abdulllah Ahmad, masing-masing mendapat gelar kehormatan melalui kesepakatan ulama yang hadir. Hamka juga memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) pada tahun 1974. Pada tahun 1977 beliau diangkat sebagai Ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) kemudian mengundurkan diri pada tahun 1981 dikarenakan tekanan pemerintah yang tidak sesuai dengan pendiriannya.
Pada zaman Soekarno, beliau pernah dipenjarakan selama dua tahun karena dituduh “pengkhianat” dan menjual negara kepada Malaysia. Tentu beliau sangat sakit hati atas tuduhan keji rezim yang pernah bertangan besi kepada tokoh-tokoh Islam tersebut. Namun beliau bersabar dan memanfaatkan waktu tersebut untuk menyelesaikan karyanya  yang monumental bernama Tafsir Al Azhar (30 jilid). Beliau menutup usia pada 24 Juli 1981. Dengan meninggalkan warisan karya-karya penting yang masih selalu dipelajari orang sehingga hari ini. Ketokohan beliau bukan saja diakui oleh masyarakat Indonesia namun di Malaysia dan Singapura kedudukan beliau dangat dihormati. Mereka juga turut bangga kepada buya Hamka. Buku-buku karangan beliau banyak dipelajari dan diterbitkan di kedua Negara tersebut. Di Singapura misalnya, maka Pustaka Nasional yang banyak menerbitkan. Di Malaysia terdapat beberapa tesis dalam bahasa Melayu, Arab atau pun Inggris yang membahas pandangan beliau dalam berbagai disiplin ilmu. (Taufiq abdullah, 1974: 78)
B. Mohammad Natsir
Mohammad Natsir (lahir di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, kabupaten Solok, Sumatera Barat, 17 Juli 1908 – meninggal di Jakarta, 6 Februari 1993 pada umur 84 tahun) adalah perdana menteri Indonesia, pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi, dan tokoh Islam terkemuka Indonesia. Di kancah internasional, ia pernah menjabat sebagai presiden Liga Muslim se-Dunia (World Muslim Congress) dan ketua Dewan Masjid se-Dunia.
Natsir lahir dan dibesarkan di Solok, sebelum akhirnya pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA dan kemudian mempelajari ilmu Islam secara luas di perguruan tinggi. Ia terjun ke dunia politik pada pertengahan 1930-an dengan bergabung di partai politik berideologi Islam.
Natsir banyak menulis tentang pemikiran Islam. Ia aktif menulis di majalah-majalah Islam setelah karya tulis pertamanya diterbitkan pada tahun 1929; hingga akhir hayatnya ia telah menulis sekitar 45 buku dan ratusan karya tulis lain. Ia memandang Islam sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia. Ia mengaku kecewa dengan perlakuan pemerintahan Soekarno dan Soeharto terhadap Islam. Selama hidupnya, ia dianugerahi tiga gelar doktor honoris causa, satu dari Lebanon dan dua dari Malaysia. Pada tanggal 10 November 2008, Natsir dinyatakan sebagai pahlawan nasional Indonesia.
Natsir banyak bergaul dengan pemikir-pemikir Islam, seperti Agus Salim; selama pertengahan 1930-an, ia dan Salim terus bertukar pikiran tentang hubungan Islam dan negara demi masa depan pemerintahan Indonesia yang dipimpin Soekarno. Natsir terlibat dalam organisasi-organisasi Islam, seperti Majelis Ta'sisi Rabitah Alam Islami dan Majelis Ala al-Alami lil Masjid yang berpusat di Mekkah, Pusat Studi Islam Oxford (Oxford Centre for Islamic Studies) di Inggris, dan Liga Muslim se-Dunia (World Muslim Congress) di Karachi, Pakistan.
Di era Orde Baru, ia membentuk Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Selama menjalani pendidikannya di AMS, Natsir telah terlibat dalam dunia jurnalistik. Pada 1929, dua artikel yang ditulisnya dimuat dalam majalah Algemeen Indische Dagblad, yaitu berjudul Qur'an en Evangelie (Al-Quran dan Injil) dan Muhammad als Profeet (Muhammad sebagai Nabi). Kemudian, ia bersama tokoh Islam lainnya mendirikan surat kabar Pembela Islam yang terbit dari tahun 1929 sampai 1935. Ia juga banyak menulis tentang pandangannya terhadap agama di berbagai majalah Islam seperti Pandji Islam, Pedoman Masyarakat, dan Al-Manar. Menurutnya, Islam merupakan bagian yang tak terpisahkan dari budaya Indonesia. Sekalipun Natsir memiliki latar belakang pendidikan Belanda, Natsir tidak tergerak sama sekali untuk melakukan westernisasi atau sekularisasi dalam dunia pendidikan Islam. Ia juga peduli akan pengaruh pendidikan Barat terhadap generasi muda.
Pemerintah Indonesia baik yang dipimpin oleh Soekarno maupun Soeharto, sama-sama menuding Mohammad Natsir sebagai pemerontak dan pembangkang, bahkan tudingan tersebut membuatnya dipenjarakan. Sedangkan oleh negara-negara lain, Natsir sangat dihormati dan dihargai, hingga banyak penghargaan yang dianugerahkan kepadanya.
Dunia Islam mengakui Mohammad Natsir sebagai pahlawan yang melintasi batas bangsa dan negara. Bruce Lawrence menyebutkan bahwa Natsir merupakan politisi yang paling menonjol mendukung pembaruan Islam. Pada tahun 1957, ia menerima bintang Nichan Istikhar (Grand Gordon) dari Raja Tunisia, Lamine Bey atas jasanya membantu perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara. Penghargaan internasional lainnya yaitu Jaa-izatul Malik Faisal al-Alamiyah pada tahun 1980, dan penghargaan dari beberapa ulama dan pemikir terkenal seperti Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi dan Abul A'la Maududi.
Pada tahun 1980, Natsir dianugerahi penghargaan Faisal Award dari Raja Fahd Arab Saudi melalui Yayasan Raja Faisal di Riyadh, Arab Saudi. Ia juga memperoleh gelar doktor kehormatan di bidang politik Islam dari Universitas Islam Libanon pada tahun 1967. Pada tahun 1991, ia memperoleh dua gelar kehormatan, yaitu dalam bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia dan dalam bidang pemikiran Islam dari Universitas Sains Malaysia. Pemerintah Indonesia baru menghormatinya setelah 15 tahun kematiannya, pada 10 November 2008 Natsir dinyatakan sebagai pahlawan nasional Indonesia. (Hasibi Ahmad, 1987:78).

C. Prof.Dr.H. Nur Misuari
Nur Misuari atau Nurallaj Misuari merupakan pengasas Pergerakan Pembebasan Mindanao yang merupakan kumpulan anti kerajaan Filipinasecara kekerasan. Nur Misuari dipenjara atas tuduhan melakukan pemberontakan pada 2006. Nur Misuari ditahan di Pulau Jampiras, Sabah 24 November 2001 kerana memasuki Malaysia tanpa dokumen perjalanan sah. Kerajaan Filipina mendesak Malaysia menyerahkan Nur Misuari tetapi Malaysia terus melindungi Nur Misuari. Nur Misuari pernah berlindung di Libya awal tahun 1980-an.
Nur Misuari merupakan Bekas Gabenor Wilayah Autonomi Islam Mindanao (ARMM). Beliau berusia 65 tahun dan menjadi buruan Manilakerana mengetuai pemberontakan 19 November 2001 sebelum melarikan diri.
Setelah deklarasi Undang-undang keadaan perang, maka MNLF (Front Pembebasan Nasional Moro) menjadi organisasi yang menonjol. Dan setelah pembunuhan besar-besaran Jabidah, kaum intelektual termasuk para mahasiswanya sepakat bahwa masyarakat Islam di negara itu akan terpelihara dengan baik sekali jika siap dilindungi oleh angkatan bersenjata yang kuat.
Tokoh-tokoh MNLF, Nur Misuari lulusan Universitas Filipina jurusan Ilmu Politik dan kemudian menjabat sebagai Rektor, selajutnya menjadi anggota staf Pusat Asia di Universitas tersebut. Ia dari keluarga rakyat biasa dari Sulu. Pemimpin yang lain yaitu Hashim Salamat dari Cotabato, berasal dari keluarga Maguindanao yang berpengaruh, dan telah belajar di lembaga-lembaga Arab dan Islam di Kairo, Mesir. Kemudian pemimpin MNLF yang lain yaitu Abdul Khair Alonto, seorang mahasiswa dan keturunan sultan-sultan di Lanao. Dengan demikian MNLF telah mewakili semua etnolinguistik dan kelompok-kelompok daerah. (Suhaimi, M.Ag,  2010: 89)


E. KABIR ABDUL RAHMAN

Kelompok Ekstrimis Islam di Thailand lahir dari adanya ‘penindasan’ hak-hak populasi Muslim Melayu yang terutama berada di daerah Pattani. Menurut Chalk (2001), kelompok ini dapat tumbuh dikarenakan tiga faktor. Yang pertama adalah adanya kepercayaan yang dianut oleh kelompok Islam mengenai romantisme kerajaan Islam, Pattani Darussalam. Yang kedua, adalah adanya hubungan lintas batas negara dengan kelompok Islam di Kelantan, Malaysia, yang mendukung gerakan kelompok Islam Pattani. Berikutnya, adalah adanya ajarah untuk ‘hijrah’ yaitu beralih ke sesuatu yang lebih baik yang diwujudkan dalam melepaskan semua ‘penyiksaan’ pemeritah untuk unifikasi agama, suku, dan etnis. Kelompok ekstrimis Islam Thailand berada di bawah PULO (Pattani United Liberation Army) dan New-PULO yang didirikan oleh Kabir Abdul Rahman pada tahun 1960-an. Kelompok ini ditunggangi oleh militan di Malaysia Utara. Selain itu kelompok ini juga memiliki kerjasama dengan ekstrimis Islam di Timur Tengah dan Asia Selatan (Hisbullah). Kerjasama juga dalam bentuk pelatihan, yaitu dengan kelompok radikal Iran, Irak, dan Pakistan. (Abdullah Taufik,1988: 135)      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar